Oleh : Muhamad Firdaus - Pimpinan Redaksi
BOGOR - 18 Februari 2026. Pencak silat merupakan salah satu mahakarya peradaban Nusantara yang tidak hanya mengajarkan teknik bela diri, tetapi juga menanamkan nilai moral, etika, dan filosofi kehidupan. Di setiap gerakan, tersimpan makna tentang pengendalian diri, keberanian, dan rasa persaudaraan. Di tengah derasnya arus globalisasi, pencak silat tetap berdiri sebagai identitas bangsa yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi penerus. Melalui kejuaraan berskala nasional, pencak silat tidak hanya dipertandingkan, tetapi juga dijadikan sarana pembinaan karakter dan persatuan anak bangsa.
Kejuaraan pencak silat tingkat nasional Piala Pangdam III/Siliwangi resmi berakhir dengan sukses dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta serta pihak yang terlibat. Event nasional ini diselenggarakan oleh Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih, S.E., bersama Yayasan Jagas Muda Nusantara dan Red Eagle Management. Penyelenggaraan kejuaraan ini menjadi bukti nyata komitmen TNI dan elemen masyarakat dalam mendukung pelestarian pencak silat sebagai olahraga prestasi sekaligus warisan budaya Indonesia.
Kejuaraan ini dilaksanakan selama empat hari, yakni pada tanggal 12 hingga 15 Februari 2026, bertempat di GOR Laga Tangkas Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini dinilai strategis karena mampu menampung ribuan atlet serta memberikan fasilitas yang memadai untuk pertandingan berskala nasional.
Tingginya antusiasme terlihat dari jumlah peserta yang mencapai 2.100 atlet, yang tergabung dalam 200 kontingen dari berbagai daerah di Indonesia. Para atlet berasal dari beragam latar belakang perguruan, sekolah, universitas, instansi, hingga daerah binaan IPSI. Hal ini menunjukkan bahwa pencak silat terus tumbuh dan diminati oleh generasi muda dari berbagai wilayah, mulai dari tingkat usia dini hingga dewasa. Kejuaraan ini tidak hanya menjadi ajang adu teknik dan strategi, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi antarperguruan serta sarana pertukaran pengalaman dalam pembinaan atlet pencak silat nasional.
Kejuaraan dibuka secara resmi melalui kegiatan seremoni yang berlangsung khidmat dan penuh makna. Acara pembukaan dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah, tokoh nasional, serta tokoh budaya yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian nilai-nilai Nusantara. Salah satu tokoh yang hadir adalah Husnan Bey Fananie, seorang diplomat senior Indonesia dan mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Azerbaijan periode 2016–2020, sekaligus cucu dari pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.
Turut hadir pula Jatnika Nanggamiharja, maestro dan budayawan Sunda yang dikenal luas sebagai pendiri Yayasan Bambu Indonesia serta ahli bangunan tradisional Nusantara. Kehadiran tokoh-tokoh ini menegaskan bahwa pencak silat memiliki dimensi budaya, sejarah, dan pendidikan yang sangat kuat.
Perebutan Prestasi dan Kesempatan Emas
Para atlet bertanding dengan semangat tinggi untuk memperebutkan Piala Pangdam III/Siliwangi, sekaligus peluang berharga berupa Rekomendasi Abdi Negara serta Program Beasiswa Pelatihan ke China. Program ini menjadi daya tarik utama karena membuka kesempatan bagi pesilat berprestasi untuk mendapatkan pembinaan lanjutan dan pengalaman internasional. Dari ribuan atlet yang bertanding, hanya pesilat terbaik yang terpilih berdasarkan kualitas teknik, mental bertanding, kedisiplinan, serta konsistensi performa selama kejuaraan berlangsung.
Pesilat Terbaik Kategori Tanding
Daftar pesilat terbaik kategori tanding menunjukkan munculnya talenta-talenta muda berbakat dari berbagai daerah dan perguruan, mulai dari usia dini hingga dewasa. Prestasi ini menjadi bukti bahwa pembinaan pencak silat di Indonesia berjalan secara berjenjang dan berkesinambungan.
1. Putra Usia Dini: Altaqy Kastara Langitan (MPW)
2. Putri Usia Dini: Khanza Shopiyani Santoso (PSM Kodim 0621 Kab. Bogor)
3. Putra Pra Remaja: Syarif Hidayatulloh (Padjadjaran Cimande)
4. Putri Pra Remaja: Keyra Yaumil Irvi (SH Terate Ranting Purwasari)
5. Putra Remaja: Zulvan Arjuna Zaenal (PSHT Kab. Bogor)
6. Putri Remaja: Sabikhatun Navila (Perisai Diri Pandaan Jawa Timur)
7. Putra Dewasa: Muhammad Khabibulla (Perisai Diri Pandaan Jawa Timur)
8. Putri Dewasa: Padma Dwi Latifah (Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)
Pesilat Terbaik Kategori Jurus
Pada kategori jurus, para atlet menampilkan keindahan gerak, ketepatan teknik, serta penghayatan nilai-nilai pencak silat. Penilaian tidak hanya berfokus pada ketepatan gerakan, tetapi juga pada ekspresi, ritme, dan kekuatan karakter yang ditampilkan oleh pesilat.
1. Putra Usia Dini: Habibie Anaking Fatoni (GHI)
2. Putri Usia Dini: Naomi Devana Rachim (Al Barakah)
3. Putra Pra Remaja: Ikram Faiz Fairuz (Setia Hati Jakarta Barat)
4. Putri Pra Remaja: Azka Faturrahman (Zain Dijaya Bina Saluyu)
5. Putra Remaja: Syeikhan Muhammad Ardan Ars (SMAN 3 Tangerang Selatan)
6. Putri Remaja: Alysandria Dewi Fortuna (Cileungsi Silat Academy)
7. Putra Dewasa: Dandy Adhyansyah & Imam Suyudi (Damkar DKI Jakarta)
8. Putri Dewasa: Rachel Desvi Rusliana (LPSI)
Pengurus Besar PB IPSI dalam keterangannya kepada media menekankan pentingnya menjunjung tinggi nilai sportivitas. Dalam pencak silat, seorang pesilat tidak hanya diuji kekuatan fisiknya, tetapi juga kehalusan rasa dan keluhuran budi. Seorang pesilat sejati adalah ksatria di arena pertandingan, namun tetap menjadi saudara di luar gelanggang. Pesan ini menjadi pengingat bahwa tujuan utama kejuaraan bukan semata-mata meraih kemenangan, melainkan membentuk karakter atlet yang berakhlak, beretika, dan menjunjung tinggi persatuan.
Grand Champions dan Pemerataan Prestasi
Penghargaan Grand Champions Kontingen diberikan kepada kontingen dengan perolehan medali terbanyak serta performa paling konsisten di seluruh kategori usia. Pada kejuaraan ini, SMI Hambalang A berhasil tampil dominan dan keluar sebagai Grand Champions dengan raihan 20 medali emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Selain itu, di setiap kelompok usia muncul juara umum yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan berlangsung sehat dan merata antarperguruan serta kontingen daerah, mulai dari usia dini hingga dewasa.
Di tiap kelompok umur juga muncul juara umum berbeda, menunjukkan persaingan merata antarperguruan dan kontingen daerah — mulai dari tingkat usia dini, pra remaja, remaja, hingga dewasa. Predikat Juara Umum diberikan kepada kontingen atau perguruan dengan perolehan medali terbaik pada masing-masing kategori usia. Penetapan didasarkan pada dominasi raihan emas, perak, dan perunggu selama pertandingan berlangsung.
Usia Dini
Juara Umum 1: PSM Kodim 0621 Kabupaten Bogor
Juara Umum 2: SMI Hambalang A
Juara Umum 3: GHI
Pra Remaja
Juara Umum 1: SMI Hambalang A
Juara Umum 2: GHI
Juara Umum 3: Padjadjaran Cimande
Remaja
Juara Umum 1: Perisai Diri Pandaan Jatim
Juara Umum 2: PSHT Kabupaten Bogor
Juara Umum 3: Padjadjaran Cimande
Dewasa
Juara Umum 1: Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Juara Umum 2: Perisai Diri Pandaan Jatim
Juara Umum 3: IPSI Lampung Selatan
Penghargaan Pelatih dan Wasit Juri
Gelar Pelatih Terbaik diberikan kepada Trias Rudi Santoso dari perguruan Perisai Diri Pandaan Jawa Timur. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi, kepemimpinan, serta keberhasilannya membina atlet hingga meraih prestasi optimal di berbagai kategori. Sementara itu, penghargaan Wasit Juri Terbaik diraih oleh Bambang Wahyudi dari IPSI Kabupaten Bogor. Ia dinilai mampu menjalankan tugas dengan profesional, tegas, konsisten, dan menjunjung tinggi integritas selama kejuaraan berlangsung.
Kejuaraan ditutup dengan seremoni penutupan yang kembali dihadiri oleh Thomas Rajunio. Acara penutupan dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni sebagai bentuk perayaan atas suksesnya penyelenggaraan kejuaraan.
Dalam keterangannya kepada media, Brigjen TNI Thomas Rajunio menyampaikan "Ya sebetulnya ini kan bagian kita TNI itu kan, TNI adalah rakyat gitu. Jadi kebetulan ada yang punya ide untuk membuat kejuaraan pencak silat ini, kemudian berkomunikasi langsung dengan Pangdam, nah dijawab dengan baik dengan beliau, sehingga dilaksanakanlah ini yang saya kira untuk kegiatan ini yang pertama. Tidak lain tidak bukan kan kalau kita lihat anak-anak muda sekarang ini kan, ini adalah calon generasi-generasi emas kita di 2045. Dan pencak silat juga tradisi asli dari Indonesia. Jadi mau tidak mau kita juga menjadi salah satu support system buat bela diri ini biar terus maju. Seperti yang saya sampaikan tadi tambahan dari amanat Pangdam kalau jangan sampai kita jadi tamu di negeri sendiri."
Kejuaraan Nasional Pencak Silat Piala Pangdam III/Siliwangi 2026 bukan sekadar kompetisi olahraga, melainkan sebuah gerakan kebudayaan dan pembinaan karakter bangsa. Dari gelanggang pertandingan, lahir harapan besar bagi masa depan pencak silat Indonesia—sebagai olahraga prestasi, identitas budaya, dan sarana pembentukan generasi muda yang tangguh, berkarakter, serta cinta tanah air. Melalui semangat sportivitas dan persaudaraan, pencak silat akan terus hidup dan menjadi kebanggaan Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.







.jpg.jpeg)



.jpg)



.jpg)
.jpg)



